Tulisan ini tercetus karena ada pasien yang sudah berpisah dengan suaminya sambil membawa anak-anaknya berobat kepuskesmas di pagi hari ini.
"Jangan bercerai Bunda" buku yang dikarang oleh Asma Nadia sangat menginspiratif sekali. Seseorang yang sudah tersakiti beberapa kali, tetap saja ingin mempertahankan rumah tangganya. Hanya 1 sebab, yaitu demi anak-anaknya. Itulah isi salah satu kisah di buku yang menginspirasi tersebut.
Berpisah bukanlah hal yang mudah. Membina rumah tangga dari awal pernikahan merupakan komitmen pasangan agar terbina rumah tangga yang sakinah, mawaddah wa rahmah. Lalu , kenapa di tengah jalan seolah aral melintang yang ada tidak bisa lagi dihadapi. Keegoisan masing-masing tidak bisa lagi dikendalikan para pemiliknya.
Pertengkaran dalam rumah tangga, kata orang adalah buah kehidupan. Kalau tidak ada, rumah tangga seperti lempeng aja jadinya. Nah, kalau pertengkaran sudah usai, romantisme yang tercipta seolah-olah kedua pasangan seperti pengantin baru saja. hehhehhe
Sebagai wanita yang bekerja, memiliki keyakinan mampu membiayai anak-anak walaupun tanpa suami, seakan menunjang untuk mempermudah terjadinya perceraian. Padahal itu hanya 1 hati yang kita fikirkan, yaitu keegoisan kita. Lalu bagaimana dengan anak kita? Apa yang akan buah hati kita hadapi, ketika teman-temannya bertanya, mama papa kamu mana? Mungkin mereka akan terbata-bata, bersedih hati mengatakan bahwa kedua orang tua mereka sudah berpisah, ditambah melihat orangtua teman yang utuh menjemput kesekolah sedangkan mereka hanya dijemput papa atau mamanya saja.
ahhh, saya tidak bisa membayangkannya.
Hal itu juga pernah saya hadapi, pertengkaran dengan suami membuat terbersit dalam hati kenapa tidak bercerai saja. Saya sanggup kok, menghidupi anak-anak saya. Ah, lagi-lagi keegoisan itu yang bicara, karena saya sebagai wanita yang bekerja. Alhamdulillah semua masalah itu pasti ada penyelesaiannya, hanya jika kita minta kepada sang pencipta kita ALLAH SWT karena hanya Dia lah sebagai pembolak balik hati manusia.
Masalah tidak akan lepas dari hidup kita, dan akan selesai kalau dibicarakan dengan hati yang lapang, mencari solusinya, membicarakan dengan yg ahli nya misal ustadzah atau ustdz, dan tidak terpengaruh dengan pihak luar yang memprovokasi keadaan. Ingatlah bagaimana disaat kita awal menikah, disaat suka dengan suami, bukan saja bagaimana dukanya.
Mudah-mudahan keluarga kita selalu diberkahi sama ALLAH, semua masalah kita diberikan penyelesaiannya. Aaamiin....
Amiin..semoga Allah mengukuhkan setiap keluarga muslim demi tujuan yang lebih besar. PERADABAN ISLAM yang ingin kita kembalikan
BalasHapusAamiin.....
BalasHapus